Cerpen Dari Dapur Bu Sewon Karya Yusi Avianto Pareanom


"Dari Dapur Bu Sewon"

Bu Sewon, pemilik rumah yang kukontrak di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, senang sekali membagi masakan dari dapurnya. Ia pemurah, kirimannya selalu dalam porsi besar. Amal ini akan menjadi sesuatu yang menggembirakan semua orang sekiranya tidak ada fakta keras: masakannya tidak pernah enak.

Antaran pertama yang kuterima adalah kolak pisang yang diwadahi dalam mangkok sangat besar yang sempat kukelirukan sebagai baskom mini. Aku sebenarnya berniat mencicipinya di ruang makan. Tapi, saat itu Bu Sewon berdiri menunggu di depan pintu sehingga aku menangkapnya sebagai isyarat permintaan agar aku mencobanya langsung.

“Minta maaf ya, Mas, kalau kurang manis,” kata Bu Sewon.

Aku mencoba sesendok. Orang satu kampung bisa kena penyakit gula semua.

Melihatku nyengir Bu Sewon melanjutkan beberapa kali minta maaf sekiranya kolaknya kurang gula sebelum akhirnya pamit. Tak mau menjadi korban tunggal, di ruang tengah aku segera meminta istriku mencicipinya. Setelah menelan sesendok ia langsung meludahkannya dan mendelik ke arahku. Lidah Manadonya tak tahan dengan kuah semanis itu.

Aku juga masih ingat betul kiriman kedua Bu Sewon. Ia menyebutnya sup daging. Tapi, kurasa masakan yang satu itu lebih pantas dinamai gerombolan rajangan kubis berendam di kuah asin panas. Aku dan istriku sudah bersungguh-sungguh bergantian mencari, tetapi yang kami temukan hanyalah tiga potong kecil daging alot di mangkok, selebihnya kubis dan kubis.

Setelah kiriman kedua itu aku dan istriku jadi terkenang-kenang bulan pertama kami tinggal di rumah kontrakan itu. Pada waktu itu dari lubang udara dapur kami sering tercium aroma harum masakan. Bu Sewon memang tinggal tepat di rumah belakang bersama suaminya, Pak Sewon, pensiunan pegawai Departemen Pekerjaan Umum, dan Ratih, anak angkat mereka yang masih remaja.

Sekalipun kami tahu bahwa bau sedap itu adalah bau bawang putih ditumis belaka, tetap saja cuping hidung kami melebar. Salah satu yang paling menggoda adalah ketika tercium bau ikan asin goreng, aromanya benar-benar membangkitkan lapar. Kami biasanya sikut-sikutan dan menyuruh yang lain memberanikan diri meminta belas kasih Bu Sewon. Saat itu Bu Sewon memang belum pernah membagi masakannya.

Kami berangan-angan betapa nikmatnya kalau ia sudi melakukannya. Kami berdua suka dan bisa memasak, tapi pada waktu itu kami terlalu sibuk sehingga kami lebih suka membeli makanan di luar. Aku sedang repot mengerjakan revisi rancangan interior sebuah kompleks apartemen sementara istriku sibuk mengurusi tesis masternya di bidang hubungan internasional.

Seperti bunyi pepatah lama, hati-hatilah terhadap apa yang kauminta. Aku tak tahu salahnya di mana, lidah dan hidung Bu Sewon, yang mestinya jaraknya tak lebih dari sejengkal, sepertinya tak bisa akur. Atau, mungkin lebih tepat jika kukatakan bahwa harapan kami yang sempat terbangkitkan setelah mencium bau masakannya segera saja merosot ke titik beku begitu kami akhirnya bisa mencicipinya. Mungkin bagi Bu Sewon sendiri rasa masakannya enak belaka.

Aku tak tahu persis apa yang menggerakkannya, boleh jadi campuran kebaikan hati yang melimpah ruah dan keinginan murni menjadikan kami korban eksperimen olah dapurnya—dengan yang terakhir dosisnya lebih tinggi, tampaknya—kian lama Bu Sewon kian ganas berbagi masakannya. Ada kue lapis hambar, martabak mblenyek, klepon asin, ayam goreng tepung yang tepungnya setebal bantal bayi, dan paling spektakuler adalah makanan dengan tekstur ganjil yang layak disebut sebagai anak haram hubungan gelap getuk dan tiwul.

Pada awalnya, aku dan istriku masih memaksakan diri menghabiskan setiap kiriman Bu Sewon, apa pun rasanya. Kami tumbuh dengan ajaran untuk tidak pernah menyia-nyiakan makanan. Tapi, setelah beberapa saat, kami berdua sepakat bahwa kami bukan masokis—dan tak berniat menjadi mualaf ke golongan itu—sehingga penyiksaan diri ini tak boleh dibiarkan. Tidak semua makanan adalah berkah, percayalah. Aku yang kemudian sering kebagian tugas keluar rumah, jalan sekitar satu kilometer untuk membuang makanan kiriman itu.

Sebetulnya, kami sempat berpikir memberikannya kepada gelandangan atau anak jalanan di sekitar Stasiun Duren Tiga-Kalibata. Tapi, pikiran itu dengan cepat kami hapus. Kami tak ingin menularkan penderitaan, dan lebih-lebih, kami tak ingin mendapat sambitan batu jika memberikan makanan yang rasanya ajaib. Aku beberapa kali melihat gelandangan dan anak jalanan di kawasan ini mendapat pembagian makanan dari yayasan sosial atau orang yang punya hajat. Sekalipun makanan yang dibagikan—kebanyakan dengan logo restoran waralaba cepat saji—tak bakal mendapatkan bintang Michelin, aku yakin rasanya pasti lebih beres ketimbang masakan Bu Sewon.

Satu hal lagi yang menjadikan seluruh urusan antaran makanan dari rumah belakang ini makin merepotkan adalah kewajiban bagi kami membalas. Memang, tak ada aturan tertulis, dan Bu Sewon pun tak meminta, tapi tak mungkin kami berpangku tangan terus. Sekalipun tidak setiap kiriman Bu Sewon kami balas, kami menjadi cukup sering memasak dalam porsi lebih. Padahal, selama ini, sebelum kami mengontrak di Kalibata, kami terbiasa belanja dan masak untuk dua orang saja. Tambahan porsi yang harus dibikin ini kadang membuat perhitungan kami dalam memasak meleset. Kepayahan gampang menular ternyata. Celakanya, kiriman balik dari kami inilah yang tampaknya makin memicu nafsu Bu Sewon menyodorkan uji cobanya kepada kami.

“Mas, kalau kita masak steik wagyu atau angus, apa harus dibagi juga ke Bu Sewon?” tanya istriku, suatu hari.

“Aku kira giginya masih kuat.”

Ia mencubit perutku dan sepertinya masih menimbang-nimbang. Parasnya lucu sekali. Aku tahu, pada akhirnya, kalaupun kami memasak daging mahal itu, ia pasti segera mengirimkannya ke rumah belakang. Tapi, aku menikmati sifatnya yang kadang masih kekanak-kanakan ini.

“Kalau sushi atau sashimi?” tanyanya lagi.

“Ampun, jangan sekali-sekali berani.”

Aku tak membayangkan Bu Sewon memakan irisan ikan mentah. Ia Jawa tulen. Ikan laut masak pun jarang ia makan, apalagi yang mentah.

Lalu, datanglah bulan puasa. Kami tak mungkin lagi bisa seenaknya membuang makanan kiriman Bu Sewon. Kautahu, atau kau mungkin pernah mendengar, bahwa orang yang menyediakan buka puasa akan beroleh pahala setara dengan orang yang berpuasa. Mana mungkin kami tega menyabotase pahala Bu Sewon begitu saja?

Setelah beberapa bulan tinggal di rumah kontrakan, kami tahu bahwa sumber kebahagiaan Bu Sewon tak banyak, yaitu mengaji dan berbagi makanan. Suaminya, Pak Sewon, yang usianya sekitar 70 tahun, mungkin berselisih 20 tahun ketimbang Bu Sewon, lebih senang ngelencer sendiri atau main domino dan samgong bersama para lelaki yang tinggal di sekitar rumah kontrakan kami. Anak angkat mereka, Ratih, sering sekali membentak-bentak Bu Sewon.

Nasib buruk Bu Sewon juga tak berhenti di situ. Dua kali ia ditipu oleh dua perempuan yang pernah indekos di rumah belakang. Ia meminjamkan uang kepada mereka dan para debitur kurang ajar itu langsung kabur. Yang pertama ia kena Rp 4 juta, yang kedua lebih parah lagi, hampir Rp 30 juta. Hatinya—dan akalnya, mungkin—memang lemah terhadap akal bulus yang dibungkus kata manis dan tampang haru.

Maka, berulanglah kembali situasi Catch 22 atau maju kena mundur kena. Kalau kiriman Bu Sewon kami makan dan habiskan, acara berbuka puasa yang sebetulnya sudah kami rancang akan menjadi berantakan. Makanan kiriman Bu Sewon sering tak klop dengan makanan yang kami siapkan. Tapi, pada saat yang bersamaan, kami merasa tak tega jika pahala Bu Sewon terganjal oleh ketinggian hati kami.

“Aneh, ya, padahal kita ini ya bukan Muslim yang taat-taat amat,” kata istriku, suatu kali dengan paras putus asa.

“Itu karena kau orang baik, Sayang,” kataku.

Kami tertawa bersama. Aku lalu mengusulkan bertaruh siapa yang paling dulu berhasil menghabiskan soto tauge—Bu Sewon menyebutnya soto ayam—akan mendapat hadiah ciuman, dan yang kalah wajib mencium.

“Kalah menang Mas ya tetap enak,” kata istriku, protes. Tapi, tanpa membuang waktu ia langsung meraih sendok.

Pada hari ketujuh belas bulan puasa, aku pulang rumah pukul lima sore dan menjumpai wajah istriku yang tertekuk. Aku hapal, haidnya sudah waktunya datang, tetapi telat satu atau dua hari. Aku sebenarnya sudah memintanya tak memaksakan diri berpuasa, tapi ia ingin menemaniku.

“Itu,” katanya sambil menunjuk tudung saji di meja, “aku tak mau makan itu.”

Aku membuka tudung saji. Mau tak mau aku menyeringai. Gado-gado bukan, pecel bukan, urap bukan, asinan apalagi. Bikinan Bu Sewon, tentu saja.

“Lalu, kau masak apa?” Ia menggeleng.

“Kau mau aku masakkan apa?” Ia menggeleng lagi.

“Baik, kau mau kubelikan apa?”

“Kalau kau benar-benar cinta padaku, kau pasti tahu apa yang kumau.“

Celaka, sungguh celaka. Tidak saja aku harus menebak-nebak selera makannya, tetapi juga harus mencari-cari jiwanya. Apa tidak gawat kalau begini? Untunglah, setelah tujuh menit sempat kebingungan di jalanan, aku menemukan jawaban: keik keju ekstra krim. Seingatku, sengambek apa pun istriku—dan juga mantan pacar-pacarku dulu—keik keju ekstra krim tak pernah gagal melunakkan hati mereka.

Benar saja, aku pulang disambut dengan senyum lebar. Aku membeli beberapa potong sehingga istriku bisa membaginya kepada Bu Sewon jika ia ingin. Tapi, tampaknya hari itu ia ingin menelan sendiri semua keik keju itu. Ia bahkan tak menawariku, si pencari jiwanya. Dengan muka kecut, dan berharap ia segera sadar—yang sayangnya tidak—aku mengunyah kiriman racikan sayur Bu Sewon yang rasanya mengingatkanku pada pertarungan Muhammad Ali melawan Joe Frazier di Manila.

Brutal.

Malam harinya, sekitar pukul sepuluh malam, terdengar teriakan dari rumah belakang. Kami segera bergegas. Ternyata, Bu Sewon terpeleset di kamar mandi. Kaki kirinya terpelicuk berat sementara tangan kanannya yang mencoba meraih gagang pintu untuk menahan jatuhnya malah mampir ke lapisan seng pintu yang sudah sobek sebagian sehingga telapak tangannya tergores cukup dalam. Darah keluar cukup banyak.

Aku segera mengeluarkan mobil dan bersama istriku serta Pak Sewon membawa Bu Sewon ke rumah sakit. Sepanjang jalan Bu Sewon menangis sementara Pak Sewon berkali-kali malah menyalahkan istrinya. Aku dan istriku berdiam diri.

Di rumah sakit, Bu Sewon segera ditangani. Dokter lalu memintanya beristirahat setidaknya semalam dua di rumah sakit sampai rasa terguncangnya hilang dan kondisinya membaik. Setelah membantu Pak Sewon mengurus administrasi dan memastikan Bu Sewon mendapatkan kamar yang pantas, aku dan istriku pamit pulang. Bu Sewon meminta maaf kepada kami karena merasa telah merepotkan. Tentu saja kami menjawab hal yang semacam itu tak perlu ia pikirkan.

“Tapi, saya benar-benar ingin minta maaf untuk yang satu ini. Besok-besok saya jadi tak bisa ngantar-ngantar lagi ke rumah depan,” kata Bu Sewon.

“Ampun, tidak apa-apa, Ibu. Bu Sewon istirahat saja yang enak di sini,” kata istriku.

Kalau tak salah, istriku menjawab sangat cepat perkataan Bu Sewon. Terlalu cepat, malah, dan samar-samar kulihat dua ujung bibirnya tertarik ke atas.

Insiden jatuhnya Bu Sewon terjadi pada puasa tahun lalu.

Saat ini kami masih mengontrak di rumahnya. Dan, sebentar lagi bulan puasa tiba. (*)
Kumpulan Menarik Lainnya
, ,
 
Mengenai KamiHubungi KamiKebijakan Privasi
©2019 Kumpulan. Design Template by SAK