Puisi Hai Aku Karya Agus Noor

Berikut ini adalah puisi berjudul "Hai Aku" yang dibuat oleh Agus Noor.

"Hai Aku"
(Karya Agus Noor)

I
Pada mulanya
Hanya sabda, “Hai, Aku!”
Tersamar gema

Yang bergeletar
Terdengar seperti “Kun!”
Pada telinga

Serupa telur
Sunyi pecah, menjelma
Ruh yang pertama

Di bawah bulan
Burung gagak terdiam
Terpukau dosa

Sedangkan kita
Getir menafsir waktu
Diusir takdir

“Tapi,” katamu
“Kita tak pernah siap
Dihapus senyap.”

Angin bergegas
Sebelum nujum timpas
Cemas pun tuntas

Sedingin kabut
Maut berdenyut lembut
Dan tak tersebut

Di pohon zaitun
Sepasang mata ular
Sehitam zakar

Cahaya memar
Bintang zohar
Bergeletar dan pudar

Lalu kusentuh
Namamu dengan doa
Di keheningan

Tuhan yang tak bernama
Yang berdiam di
Sabda dan dosa:

“Berikan aku
Nikmat yang kekal itu
Bukan di surga.”

“Biarkan kami
Menikmati yang dosa
Dengan bahagia.”

Bukan karena ular
Dan buah itu
Kita tergoda

Kita pilih dunia
Karena surga
Hanyalah dusta

Ke dalam peluk
Kaucoba tolak kutuk
Dan nasib buruk

“Dekaplah aku
Dan sembunyikan aku
Dalam dosaMu.”

“Sungguh, cintaku
Maut tak lebih nikmat
Dari senggama.”

II
Reranting kering
Lengking seekor anjing
Moksa ke hening

Sekukuh iman
Malaikat pun berjaga
Di gerbang surga

Sebelum lengkap ayat
Bahkan malaikat
Pun berkhianat

Kita mengingat:
Mephisto yang jatuh
Ke lembab kitab

Juga Arakiel
Yang mensucikan diri
Ke arak api

Sebab yang suci
Bukanlah yang ilahi
Tak terpahami

“Tuhan hanyalah
Yang tak ada, tetapi
Kita percaya.”

Kita bukanlah
Pemberontak pertama
Yang menyangsikan

Janganlah getir
Kita tidak terusir
Karena takdir

Maka, cintaku
Neraka hanya ada
Di ketakutan

Di jantung langit
Seiris bulan sabit
Dan sisa jerit

Detik melambat
Kukenang dalam khidmat
Yang kan terlewat

III
Kukenang kamu
Di fotosfera senja
Seindah luka

Aku melihat
Kepala bayi mati
Dalam selokan

Wajah wanita
Yang mati diperkosa
Sepucat mawar

Udara tuba
Penuh hujah
Oranng-orang berjubah

Sedang gerimis
Seperti bedak tumpah
Di langit merah

Bagai peronda
Kematian berjaga
Di sudut kota

Dan bayanganMu
Megah berjubah kubah
Sehitam Ka’bah

Seekor burung
Dengan sayap berkobar
Terbang bergegas

“Tuhan yang kudus
Kusembunyikan
Namamu dalam cemas.”

Masih telanjang
Kita memandang
Kota rungsang dan sungsang

Rasanya belum lama
Kita nikmati
Dosa pertama

Di kota kita
Dusta lebih dipuja
Dari yang dosa

Dan kau lihatlah
Tuhan dijual murah
Serta ketengan

“Jangan kautakut
Segala bisa kata
Para pendusta

Tak perlu kaujeritkan
Kecemasanmu
Ke dalam doa.

Sentuhkan saja
Tangan lembutmu itu
Pada cahaya

Dekatkanlah jantungmu
Sedekat detak
Jantungku, Cinta.”

- 2013 -